Harga Minyak Mentah Global Meroket Efek Serangan Tiga Kapal Tanker

Posted on

JAKARTA – Harga minyak mentah global melonjak tajam lebih dari 7 persen menyusul serangan terhadap tiga kapal tanker di kawasan vital Selat Hormuz. Aksi ini merupakan rentetan respons keras Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) atas serangan udara Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Sabtu (28/2/2026).

Lonjakan harga langsung menghantam pasar Asia di awal pekan. Perdagangan Senin (2/3/2026) pagi mencatat harga minyak mentah Brent melesat ke level US$78,25 per barel. Minyak mentah AS (*WTI*) turut merangkak naik 7,3 persen menembus angka US$71,93. Sejumlah analis bahkan memprediksi harga berpotensi menyentuh US$100 per barel jika ketegangan militer tidak kunjung mereda.

“Pasar saat ini memang belum panik, namun mereka terus mengamati apakah lalu lintas di Selat Hormuz bisa kembali normal dalam waktu dekat,” urai Kepala Riset Energi MST Research, Saul Kavonic.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO) mengonfirmasi dua armada laut terkena hantaman langsung, sementara satu lainnya melaporkan ledakan proyektil dalam jarak yang sangat dekat. Secara bersamaan, IRGC secara terbuka mengklaim telah membakar tiga armada tanker milik Inggris dan Amerika Serikat. Pemerintah Iran juga telah mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh lalu lintas maritim untuk tidak melintasi perairan tersebut.

Kondisi keamanan yang memanas membuat jalur logistik energi dunia lumpuh total. Mengingat kawasan ini menyumbang sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, dampaknya meluas dengan cepat. Platform pelacakan Kpler mendeteksi sedikitnya 150 kapal tanker kini tertahan dan memilih berlabuh di luar selat akibat tingginya risiko serta lonjakan tarif asuransi.

Raksasa pelayaran asal Denmark, Maersk, terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menghentikan seluruh rute melalui Selat Bab el-Mandeb serta Terusan Suez. Kapal-kapal kargo tersebut kini dialihkan memutar jauh melewati Tanjung Harapan di ujung benua Afrika.

“Besarnya kenaikan harga sangat bergantung pada seberapa lama konflik ini berlangsung,” tegas Presiden Automobile Association, Edmund King.

Merespons potensi krisis energi, kelompok negara penghasil minyak (OPEC+) yang melibatkan Arab Saudi dan Rusia sepakat menambah kapasitas produksi sebesar 206.000 barel per hari. Meski demikian, banyak pihak meragukan efektivitas penambahan kuota ini selama urat nadi distribusi utama masih terputus. Eskalasi konflik bersenjata dan saling balas serangan udara ini juga dilaporkan mulai merembet menyasar wilayah Dubai, Doha, Bahrain, hingga Kuwait.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *